![]() |
"Mister, kok handphone-nya gak punya tombol?" |
Menjadi pusat perhatian emang menyenangkan, udah
jadi sifat dasar manusia gue rasa kalo setiap orang pasti ingin diperhatikan,
betul? Terlepas apakah dia itu orang terkenal atau bukan, kadang mendapat
perhatian di tempat dan situasi yang gak tepat bisa jadi bukan menyenangkan
malah memalukan, terlebih waktu kita lagi traveling.
Traveling itu ibarat bertamu. Mengunjungi suatu
daerah, apalagi yang jarang didatengin oleh wisatawan, mau gak mau akan
menempatkan kita sebagai ‘orang asing’ ditengah masyarakat. Nah, sebagai ‘orang
asing’ tentu kita dianggap berbeda, dalam artian apa yang kita kenakan atau
lakukan di tempat tersebut mungkin akan terlihat aneh, menarik atau bisa jadi
lucu bagi mereka. Sadar atau gak, kondisi ini yang gak jarang menjadikan kita sebagai
pusat perhatian.
Kejadian kayak gitu sering banget gue alamin, dan
biasanya pasti ketika lagi traveling bareng temen. Salah satu yang paling
konyol, waktu gue dan 3 temen kampus: Tiwi, Mayang dan Gama ke Papandayan sekitar
bulan Juli tahun 2010 lalu, udah lama juga yah? Hehehe.. Ketiga temen gue ini
emang bukan orang2 yang biasa backpacking (traveling ala backpacker). Akibat
ke-sotoy-an gue, kita ke Papandayan jalan kaki dari Desa Cisurupan ke pelataran
parkir, tadinya dipikir deket tapi ternyata jauh banget!
Singkat cerita, beruntung ditengah jalan ada mobil
pick-up pengangkut sayuran yang lewat, dan kita diperbolehkan untuk menumpang.
Entah karena terlalu excited atau mungkin ini pengalaman pertama buat mereka naik
pick-up, kehebohan pun terjadi. Sepanjang jalan kita berempat asyik berfoto2
ria tanpa peduli keadaan sekitar, berbagai pose dilakukan mulai dari foto
narsis hingga ala artis! Sebagai gambaran, Tiwi dan Mayang itu dua cewek
berjilbab, dan mereka memakai kaca mata hitam layaknya orang mau ke pantai.
Sementara Gama? Cowok satu ini emang berperawakan agak blonde, meski sebenernya
gak ada keturunan bule. Alhasil tanpa sadar kita udah jadi tontonan warga
sepanjang jalan, terlebih setelah ada segerombolan anak kecil yang lari2
ngikutin pick-up sambil berteriak dan nunjuk2 “Ada bule!! Ada bule!!” ke arah
kita, ampuuun malunya bukan kepalang! Hahaha.. x))
![]() |
Foto ala Selebritis! |
Lain cerita di Lembata, waktu itu gue kesana bareng
seorang bule asal Prancis kenalan di Kelimutu bernama John, pertengahan Juni
2011. Sensasi bagai selebritis gak abis2 gue rasain selama berada di pulau ini.
Daya tarik utama jelas si John, dan gue sebagai ‘orang lokal’ sering dianggep
guide dan didaulat menjadi translator oleh penduduk setempat. Suatu kali sempet
ada seorang penjual pisang goreng di Terminal Barat Lewoleba yang ngasih nomor
telpon dia ke gue, pesennya cuma satu: “Mas tolong bilangin mister, kalo udah
balik ke negaranya kabarin saya yah, siapa tau ada lowongan pekerjaan buat saya
disana..” Menurut nganaaaaa!?
Gak abis disitu, John juga jadi magnet bagi sopir
dan kenek bus antar kota yang rela antar jemput kita dari Lewoleba ke Wairiang.
Satu yang jadi perhatian mereka, kenapa handphone (I Phone) yang dimiliki John
gak punya tombol? Karena penasaran, mereka pun meminta John ngajarin gimana cara
menggunakannya. Sebagai imbalan, Kemana dan kapan pun kami pergi mereka siap
mengantar! Hahaha.. Waktu di Lamalera juga gitu, gue dan John gak henti2nya
dibuntutin oleh segerombolan bocah2 kecil yang lucu. Mereka takjub dengan
kamera SLR yang dibawa John, dan setiap kali John membidikkan lensa kamera pasti
ada aja cara yang dilakukan oleh bocah2 lucu itu untuk bisa ikut difoto, mereka
bilang “Mister, saya mau masuk tivi mister!” xD
Gak soal kejadian lucu, bahkan ketika kena musibah
pun juga bisa menjadikan kita pusat perhatian. Hal ini dialamin Gue dan Dee
waktu di Wakatobi bulan Oktober tahun lalu. Sebuah peristiwa cukup mengerikan
terjadi setibanya di Pelabuhan Waiti’i, Tomia. Dee, yang saat itu berboncengan
motor dengan Dokter Yudi (guide selama di Tomia) terperosok ke jurang sedalam
kurang lebih 10 meter! Beruntung mereka selamat, meski mengalami memar dan
beberapa luka robekan.
Mas Yudi itu satu2nya dokter di Tomia, jadi gak
heran kalo ada sesuatu yang terjadi sama dia pasti berita-nya akan sangat cepat
dan mudah menyebar ke seluruh pulau, termasuk soal jatohnya dia ke jurang
bersama Dee. So selama di Tomia, kemana pun kita pergi pasti langsung dikenalin,
terlebih Dee yang sering banget disapa sama warga setempat “Oh ini, si merah
yang nyusruk ke jurang bareng pak dokter?” Karena waktu kejadian, Dee memakai
baju warna merah. Hahaha..
Kejadian2 kayak gini yang bikin gue selalu kangen
traveling. Kadang hal2 kecil yang dianggap biasa dan sering dilakukan oleh kita
bisa jadi terlihat aneh, menarik atau lucu buat mereka. Perbedaan budaya dan
pembangunan yang gak merata emang menjadi faktor. Sebagai ‘tamu’ kita pun harus
menghargai kearifan2 lokal seperti itu, toh apa yang mereka lakukan sebenernya juga
merupakan bentuk perhatian dan kepedulian kepada tamu yang dateng ke ‘rumah’ mereka,
bukan begitu? Jadi, ada yang pengen jadi selebritis dadakan? Cobalah traveling! xD
No comments:
Post a Comment